• Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Provinsi Bali - Bersahaja, Berintegritas, Berpengalaman, Berkomitmen - Suara Golkar Suara Rakyat
    • Selamat Datang di Website Resmi Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Provinsi Bali - Bersahaja, Berintegritas, Berpengalaman, Berkomitmen - Suara Golkar Suara Rakyat

SEJARAH GOLKAR DI BALI



Sebelum menjadi organisasi sebesar sekarang, sejarah Golkar bermula pada 20 Oktober 1964. Di Tingkat Pusat dibentuk Sekber Golkar (Sekretariat Bersama Golongan Karya) yang tujuannya untuk mengorganisasikan kekuatan golongan fungsional non-afiliasi dalam tubuh Front Nasional, agar mampu mengimbangi kekuatan Partai Politik saat itu. Pertemuan diselenggarakan di Sekretariat Pengurus Besar Front Nasional, Merdeka Selatan No. 13 ini dihadiri 97 organisasi. Dewan Pimpinan Harian Sekber Golkar diketuai oleh Brigjen Djuhartono.

Lewat surat tertanggal l0 Januari 1965 Pimpinan Harian Sekber Golkar menginstruksikan Pembentukan Sekber Golkar di seluruh daerah. Pada tanggal 9 - 11 Desember 1965 diselenggarakan Mukernas Sekber Golkar di Cipayung, Bogor. Bali diwakili oleh AKBP Suwarman dan Tjokorda Rai Sudharta, MA. Mukernas itu merumuskan empat item yakni : garis-garis besar perjuangan Golkar program aksi Golkar, konsolidasi organisasi Sekretariat Bersama Golongan Karya, serta pembinaan dan penyusunan kader Sekber Golkar. Mukernas juga berhasil menyempurnakan Susunan Dewan Harian Sekber Golkar.

Melaksanakan hasil Mukernas itu, pada tanggal 15 Januari 1966 dibentuklah Sekber Golkar Bali dengan anggota 17 organisasi. Tanggal 18 Januari 1966 dilaksanakan pemilihan Dewan Pimpinan Harian Sekber Golkar Bali dengan Susunan Pengurus sbb:

Penasehat                    : 1. Kolonel Soeroso, 2. Cokorda Rai Sudharta, MA.

Ketua Umum               : Drs. Hari Budjari (AKRI)

Wakil Ketua I               : Drs. Muljono (SKDN)

Wakil Ketua II              : Gde Madera (Pramuka)

Wakil Ketua III             : Letkol L. Soekamto (ALRI)

Sekretaris I                  : Djuremi Bakri, BA(Muhammadiyah)

Sekretaris II                 : W.D. Duarsa (PGRI)

Bendahara I                : Nyoman Djagrim (Swasta Nasional)

Bendahara II               : Ny. Ismono Ismakun (Bayangkari)

 

Pembentukan Sekber Golkar di Tingkat Propinsi ini disusul pembentukan di Tingkat Kabupaten : Badung (31 Maret 1966), Tabanan (4 April 1966), Gianyar (5 April 1966), Klungkung (6 April 1966), Bangli (7 April 1966), Buleleng (11 April 1966), Karangasem (12 April 1966), dan Jembrana (13 April 1966).

Tanggal 7 - 8 Nopember 1966 Sekber Golkar Bali mengadakan Mukerda di Gedung DPRD Kelandis Denpasar. Rakerda itu memilih :

Ketua Umum              : Letkol Suwandi (ABRI)

Ketua I                         : AKBP Boy Darmayuman

Ketua II                        : Drs. Sembah Subakti AKBP

Sekretaris Umum       : AA Kt. Karang (Pramuka)

Hingga akhir tahun 1968, Sekber Golkar Bali belum bisa berbuat banyak. Di Pusat, baru tahun 1969, 200 organisasi yangberafiliasi dalam Sekber Golkar dikonsolidasikan ke dalam kelompok inti yang disebut Kelompok Induk Organisasi (KINO). Tanggal 22 Nopember semua organisasi dalam Sekber Golkar sudah dimasukkan ke dalam salah dari tujuh Kino, yakni Kino MKGR, Kino Soksi, Kino Kosgoro, Kino Profesi, Kino Ormas Hankam, Kino Bakari dan Kino Karya Pembangunan.

Memberi Respon terhadap Keputusan DPP Sekber Golkar 8 Oktober 1969, juga sehubungan dengan disahkannya RUU Pemilu dan RUU tentang Susunan serta Kedudukan MPR/ DPR/DPRD tanggal 22 Nopember 1969; masing-masing menjadi UU No. 15/1969 dan UU No. 16/1969, Sekber Golkar Bali mengadakan konsolidasi lagi. Konsolidasi organisasi ini lebih populer dengan nama KORE (Konsolidasi dan Regrouping). Rapat-rapat diadakan di Kodam XVI/Udayana - Sekarang Kodam IX/Udayana dan menyepakati Susunan Pengurus baru

Sekber Golkar Bali sbb :

Ketua                           : Mayor Liek Rochadi (ABRI)

Wakil Ketua                : Kapten J.Marpaung (Kepolisian)

Wakil Ketua                : Ida Bagus Suindra (SOKSI)

Sekretaris Umum       : Lettu I Soeyatto (ABRI)

Wk. Sekretaris            : Drs.I Gusti Ngurah Gorda

Wk. Sekretaris            : Drs.Putu Suasnawa

Bendahara                  : Ibu Sutikno (Persit) Kapten J.

 

Pengurus baru itu dilantik pada 8 Januari 1970 dihadiri oleh Ketua Umum DPP Golkar (Mayor Jenderal Sokowati), Sekretaris Sekber Golkar Pusat (Drs. Moerdopo) dan Panglima Kodam XVI/Udayana.

Nama Golkar semakin naik ke permukaan dengan dilaksanakannya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12. Tanggal 4 Desember 1969, Mendagri Amir Machmud mengeluarkan Permen 12/1969 yang beijudul : PEDOMAN TATA CARA PEMURNIAN WAKIL-WAKIL GOLKAR DALAM DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH GOTONG ROYONG TINGKATI DAN TINGKATII.

Dalam pasal 1 disebut, DPRGR pada tingkat propinsi, kabupaten dan kotamadya terdiri atas golongan politik dan Golongan Karya yang merupakan kekuatan sosial politik yang nyata dalam masyarakat. Permen 12 itu juga menyatakan, partai-partai politik dan Golongan Karya mempunyai wakil dalam jumlah sama dan bila jumlah anggotanya merupakan bilangan tidak genap, maka anggota lebih itu harus berasal dari Golongan Karya.

Sekber Golkar menuntut agar golongan fungsional diwakili oleh Sekber Golar, baik untuk Tingkat I dan Tingkat II. Setelah mendapat persetujuan Gubernur, Sekber Golkar berhasil mewakili golongan fungsional di DPRDGR Tingkat I maupun Tingkat II.

Di Bali juga dibentuk Kino Kosgoro (1970) dan MKGR (1970). Konsolidasi ini dilanjutkan sampai ke tingkat kabupaten di seluruh Bali. Kemudian, tahun 1971, di Daerah Tingkat I dan Tingkat II dibentuk Badan Pengendali Pemilihan Umum (Bapilu), yang tugasnya memilih, menyusun dan mengajukan calon-calon Golkar serta mempopulerkan tanda gambar Pohon Beringin sebagai tanda gambar Golkar. Setelah  konsolidasi dan regrouping, sekretariat Golkar dipindah ke Jalan Surapati No.9 Denpasar.

 

PEMILU 1971

Tahun 1971 merupakan percobaan awal buat pengurus Sekber Golkar Tk.I Bali, di bawah pimpinan Liek Rochadi. Hasilnya cukup menggembirakan. Partai-partai politik seperti PNI, IPKI, NU, Partai Katolk, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Muslimin Indonesia, Partai Kristen Indonesia, Murba dan Perti mengalami kemunduran dibandingkan Golkar. Kemenangan Golkar itu disebabkan beberapa faktor, seperti dukungan ABRI melalui Dwi Fungsinya, dukungan Pemerintah Daerah Bali, serta usaha-usaha Sekber Golkar sendiri. Pada pemilu tahun 1971 itu, Golkar memperoleh 870.644 suara (82,21%) dari 1.050.935 pemilih. PNI menduduki tempat kedua dengan 130.259 suara.

Bulan Pebruari 1974 diselenggarakan Musda Tingkat I yang pertama. Musda Tingkat I ini merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi Golongan Karya Tingkat I. Musda tersebut menyepakati komposisi DPD Golkar Tk.I Bali masa bhakti 1974-1979 dengan ketua H. Soekidjo Digdowiratmo. DPD Golkar Tk.I Bali ini didampingi oleh Devvan Pertimbangan Golkar yang sebelumnya bernama Dewan Pembina Golkar Tk.I Bali - dengan anggota Dading Kalbuadi, Prof.Dr. Ida Bagus Mantra, R.Soedarmo, Soedarto Soetirto, Djariaman Damanik,SH, dokter Ida Bagus Oka.

 

PEMILU 1977 DAN 1982

Sejak kemenangan dalam Pemilu 1971, DPD Golkar Bali terus menyelenggarakan konsolidasi antara lain dengan membentuk organisasi fungsional seperti FBSI, PGRI, KNPI, HNSI, dsb. Selanjutnya, organisasi profesi dan organisasi indenpenden seperti IDI, PERSAHI,PII, ikut aktif menyumbangkan pemikiran dalam bentuk kertas kerja yang berkenaan dengan pembangunan.

Para pengurus Golkar sadar, untuk bertahannya pemerintahan Orde Baru yang berarti juga dilanjutkannya pembangunan di segala bidang, berarti bahwa dalam pemilu

tahun 1977 harus dimenangkan oleh Golongan Karya. Dan kemenangan Golkar dalam Pemilu 1977 didasarkan pada tiga tujuan yakni:

·         Tetap tegaknya Negara Kesatuan RI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

·         Terjaminnya pelaksanaan Program Pembangunan Nasional.

·         Terpeliharanya stabilitas politik nasional

Persiapan yang sangat matang ini disertai pembentukan Bappilu pada 23 Januari 1976 yang diketuai oleh Soekidjo Digdowiratmo. Bappiluda Tk.I Bali ini mulai menggalang kader-kader organisasi profesi/fungsional yang ada di Bali. Sarana ynag digunakan untuk pembinaan kader adalah jalur ABRI, Departemen Dalam Negeri/Pemda, dinas-dinas, organisasi profesi/fungsional dan jalur swasta.

Rangkaian berikutnya adalah kampanye. Golkar menyajikan tema "Peningkatan Pembangunan dan Perataan Hasil-hasilnya" (tema nasional) dan di Bali disesuaikan menjadi Peningkatan Pembangunan di Segala Bidang Khususnya dalam Bidang Sosial untuk Perataan Hasil-hasilnya Terutama bagi Masyarakat Ekonomi Lemah". Metode kampanye antara lain dilakukan dengan anjangsana, penyuluhan, aksi kegiatan langsung, menguasai pos jabatan penting di desa, bertindak sebagai suri teladan, dsb. Media lainpun digunakan, seperti surat edaran, selebaran, brosur, folder, majalah, poster, iklan, tulisan dengan kombinasi gambar, film, slide, televisi, pameran, dan media tradisonal yang hidup di Bali. Ditunjuk juga 45 orang juru kampanye.

Pemilu 1977 itu dimenangkan lagi oleh Golkar dengan 85,35% perolehan suara, naik 2,35% dari pemilu sebelumnya. Golkar meraih 27 kursi dari 32 kursi yang diperebutkan dalam pemilu itu.

 

KONSOLIDASI ORGANISASI

Masa bakti pengurus DPD Golkar periode 1974-1979 segera berakhir. Maka, Pebruari 1979 diadakan Musda kedua kalinya. Dalam Musda II itu ditetapkan dan diangkat pengurus DPD Golkar Tk.I Bali periode 1979-1984 sbb :

Ketua                          : Soekidjo Digdowiratmo

Wk. Ketua                   : I Gusti Ngurah Sindhya,BA

Wk. Ketua                   : I Gusti Ngurah Partha

Wk. Ketua                   : Drs.A.A. Gde Putera

Sekretaris                    : Soedarmono

Wk.Sekretaris             : I Wayan Waya,SH

Wk.Sekretaris             : Dw. Pt. Suparta Nidha,Sm.Hk

Wk.Sekretaris             : I Gusti Bagus Saputera

Bendahara                  : Ny. Soekardji

Kepengurusan ini dilengkapi dengan biro-biro. Pengurus ini juga didampingi Dewan Pertimbangan Golkar Tk.I Bali yang berjumlah 19 orang dan diketuai oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Anggota Dewan Pertimbangan ini berasal dari pejabat-pejabat tinggi di Tingkat I Propinsi Bali.

 

PEMILU 1982

Pemilu tahun 1971 dan 1977 memberikan pengalaman berharga buat Golkar untuk menyongsong Pemilu 1982. Masukan yang diperoleh setelah dua kali pemilu, bahwa sebagian besar massa pemilih berada di pedesaan dan media komunikasi yang efektif adalah media massa tradisional seperti seni tradisi. Generasi muda, mahasiswa dan pelajar, juga merupakan potensi yang belum digarap secara intensif. Didapat pula arti penting Catur Guru, peranan pegawai negeri di masyarakat yang masih berorientasi vertikal, dsb.

Tema kampanye Pemilu 1982 masih terkait dengan tema pada pemilu sebelumnya. Kalau pada pemilu 1971 Golkar mengambil tema besar "Akselerasi Pembangunan" dan tahun 1977 menggunakan tema "Peningkatan Pembangunan dan Pemerataan Hasil-hasilnya", maka tema kampanye tahun 1982 adalah "Kesinambungan, Peningkatan dan Pemerataan Pembangunan serta Hasil-hasilnya." Berkaitan dengan pemilu itu, tahun 1980 sudah dibentuk Bappiluda Golkar Tk.I Bali yang diketuai oleh Soekidjo Digdowiratmo. Disini mulai dikenal adanya pemantapan mekanisme 3 (tiga) jalur :

1.Jalur A : Pepabri, Perip, Warakawuri, Darma Pertiwi, Veteran, Korpri Unit Hankam  dan lingkungan KB A yang lain.

2. Jalur B : Korpri Dharma Wanita, Hansip/Wanra, Pramuka dan lingkungan    keluarga besar Korpri yang lain.

3.Jalur G: yaitu kader Golkar pada organisasi profesi/ fungsional indenpenden dan organisasi pendukung seperti Tri Karya PORI, HDI, GUPPI, AMPI, para simpatisan dan masyarakat lain.

Hasil pemilu tahun 1982 kembali menunjukkan keunggulan Golkar. Kemenangan Golkar adalah berupa perolehan suara sebesar 88,34%, naik 2,99% dari pemilu tahun 1977.

 

PERJUANGAN TRI SUKSES GOLKAR 1982 -1989

Pada tanggal 20 - 25 Oktober 1983 adalah salah satu tonggak sejarah penting bagi Golkar. Pada penutupan Munas II Golkar itu dihasilkan beberapa keputusan yang amat prinsipil dan memiliki jangkauan menyeluruh dan luas. Di antaranya adalah penyempunaan AD dan ART, keluarnya pernyataan politik Golkar untuk menyukseskan pelaksanaan Pelita V, terbentuknya kepemimpinan Golkar dengan komposisi dan perorangan yang dinilai memiliki kapasitas dan kecakapan untuk menyongsong tugas-tugas besar dan berat sebagai hasil Munas III tersebut.

Munas itu juga menetapkan program organisasi untuk masa 5 tahun berikutnya, yakni konsolidasi anggota, penyempurnaan struktur dan prosedur kepengurusan, penggalian dan pendayagunaan dana dan yang juga sangat penting adalah pemenangan Pemilu 1987 dan pensuksesan Sidang Umum MPR 1988. Munas menampilkan Sudharmono, SH sebagai pucuk pimpinan DPP Golkar didampingi oleh Ir. Sarwono Kusumaatmadja sebagai sekretaris jenderal.

Kalau dirangkum secara sederhana, maka program umum Golkar itu dapat dirangkum dalam apa yang dinamakan Tri Sukses Golkar, yang isinya sbb :

1.Sukses konsolidasi, meliputi konsolidasi idiil, konsolidasi wawasan dan konsolidasi organisasi.

2. Pelita IV.

3. Sukses Pemilu 1987 dan Sidang Umum MPR 1988.

 

Sebelum itu, Golkar memang mencatat beberapa sukses. Pada Sidang Umum MPR 1978, Golkar bersama-sama ABRI dan kekuatan sosial politik Pancasila lainnya berhasil memperjuangkan diterimanya P-4 sebagai ketetapan MPR. Lalu pada Sidang Umum MPR 1983 dicapai kesepakatan bahwa Pancasila adalah satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ini diikuti dengan penyempurnaan UU No. 5/1975 tentang Parpol dan Gokar, menjadi UU No. 3/1985 tentang ormas, di mana Pancasila menjadi asas satu-satunya, baik untuk organisasi sosial poliik maupun organisasi kemasyarakatan. Pancasila juga dinyatakan sebagai ideologi terbuka.

Tanggal 29 Nopember 1983 DPP Golkar mengeluarkan keputusan bernomor Kep-005/DPP/Golkar/l 1/1983 mengenai keanggotaan. Di luar dugaan, sampai dengan 1 Januari 1984, jumlah orang yang mendaftar sebagai anggota Golkar di seluruh Indonesia tercatat 32.416.188 orang.

Tanggal 5 Mei 1984 Golkar menetapkan Rencana Induk Kaderisasi Golkar dan tanggal 9 Juni 1984 DPP Golkar mengeluarkan keputusan tentang Peminaan Kader Penggerak Tentorial Tingkat Desa (Karakterdes) dengan Kep-051/DPP/ Golkar/10/1984. Dan sampai dengan tanggal 2 Juli 1984, di seluruh Indonesia telah tercatat anggota Karakterdes sebanyak 8.280.728. Selain Karakterdes, dibentuk juga Karsinal (Kader Fungsional), yakni kader yang berada pada lingkungan profesi tertentu. Dan dalam pemilu tahun 1987 Golkar kembali mencatat kemenangan, yakni 73,17%, lebih besar dari target 68% yng direncanakan. Golkar meraih 299 kursi di DPR RI, lebih dari target 283. Kemenangan ini juga terjadi di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Aceh.

 

GOLKAR DI BALI

Tanggal 18 s.d 20 Januari 1984, di Bali diselenggarakan Musda III Golkar Tk.I Bali. Musda menetapkan program kerja, serta menyusun kepengurusan DPD Golkar TK.I Bali masa bhakti 1984-1988, yang komposisinya sbb :

 

Ketua                          : I Gusti Putu Raka, SH

Wakil Ketua                : I Gusti Ngurah Sindhya, BA

Wakil Ketua                : A.A. Ngurah Manik Parasara

Sekretaris                    : Dewa Putu Supartha Nida, SH

Wakil Sekretaris          : Drs. Redha Gunawan

Wakil Sekretaris          : Ir. Ida Bagus Putera

Bendahara                   : I Wayan Waya, SH

Wakil Bendahara        : Ida Bagus Suindra

Wakil Bendahara        : H.A. Hidayat

 

Komposisi pengurus ini masih dilengkapi dengan sejumlah biro, antara lain Biro Pemenangan Pemilu, Biro OKK, Biro Pendidikan dan Kursus-kursus, Biro Penerbitan dan Mass Media, Biro Tani dan Nelayan, Biro Tenaga Kerja Koperasi & Wiraswata, Biro Wanita, Biro Kerokhanian, Biro Cendekiawan, Seni Budaya dan Pengabdian Masyarakat.

Sebagaimana diatur dalam AD/ART Golkar DPD Golkar TK.I Bali masa bhakti 1984-1988, dilengkapi juga dengan Dewan Pertimbangan Golkar Tk.I Bali, yang komposisinya seperti berikut:

Ketua                            : Prof. Dr. Ida Bagus Mantra

Wakil Ketua                 : Dr. Ida Bagus Oka

Wakil Ketua                 : Soedarto Soetirto

Wakil Ketua                 : Drs. I Gst. Agung Gde Oka

Sekretaris                    : I Ketut Widjana, SH

Dan anggota sebanyak 11 orang, yakni Ny. Ida Bagus Mantra, Ny. Faridey Kartomo D, Drs. Sembah Subhakti, H.Soekidjo Digdowiratmo, Ridwan Sani, SH, Hartawan Mataram, H.M. Sarim, I Gusti Made Debot, A.A. Gde Putra.SH, Tjokorda Gde Ngurah, Drs. I Gst. Agung Gde Putra dan A.A. Gede Karang.

Setelah Musda Tk. I Bali, segera dilanjutkan dengan Musda Tk.II di seluruh Bali. Langkah penting berikutnya adalah penyelenggaraan diklat kader dan pendaftaran anggota. DPD Golkar Tk.I Bali menyelenggarakan Penataran Tingkat Wilayah Koordinasi VH-yakni Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta- dari 31 Juli s.d 3 Agustus 1984. Para pesertanya 201 dari Bali dan 138 dari DIY. Penataran serupa diselenggarakan lagi pada 1-4 September 1984 untuk 210 orang kader Golkar di seluruh Bali.

Karakterdes ini pada pokoknya memiliki beberapa tugas:

1.    Meyakinkan penduduk tentang kebenaran tujuan Golkar.

2.    Menggalang penduduk desa untuk mendukung perjuangan Golkar.

3.    Menggerakkan penduduk dalam membangun desa.

4.    Mengikuti perkembangan, mendalami aspirasi dan menyalurkan aspirasi pada organisasi.

5.    Membantu melindungi penduduk desa.

Setelah proses pembentukan Karakterdes beijalan lancar, selanjutnya dibentuklah kader fungsional, yakni :

1.    Kader fungsional pemuda

2.    Kader fungsional pemuka agama Islam

3.    Kader fungsional wanita

4.    Kader fungsional pendidik

5.    Kader fungsional seniman

6.    Kader fungsional pengusaha

7.    Kader fungsional pekerja

Untuk efektivitas kerja, tanggal 21 Maret 1984 ditetapkan wilayah seluruh Bali, yang dibagi menjadi dua wilayah. Wilayah 1 meliputi Kabupaten Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Bangli. Wilayah II meliputi Kabupaten Badung, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem.

Dibentuk juga Badan Penglola Kader Daerah (Bapekada) yang tugasnya antara lain merencana dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan apa yang sudah digariskan oleh DPD Golkar. Bapekada ini diketuai oleh I Gusti Ngurah Sindhya,BA.

Kemuadian, untuk menyukseskan Pemilu 1987 dibentuklah Badan Pengendali Pemilihan Umum pada tanggal 10 April 1986. Badan ini terdiri atas dewan pimpinan, penghubung tiga jalur, sekretariat, bendahara, biro perencanaan dan evaluasi, biro kelembagaan pemilu, biro penggalangan dan biro kampanye. Bapiluda inilah yang mengkoordinasikan segala kegiatan menyangkut pemilu di Bali. Kampanye dimulai, jurkam baik dari pusat maupun jurkam Tingkat I, tampak terl;ibat aktif dalam kegiatan kampanye tersebut. Dan puncaknya adalah pada tanggal 16 April 1987, yang diselenggarakan oleh DPD Tk.I Bali, dihadiri oleh seluruh massa Golkar Bali. Rapat Umum itu menampilkan dua juru bicara, yakni I Gusti Putu Raka.SH dan Nani Soedarsono, SH.

Kerja keras jajaran Golkar Bali tak sia-sia. Dalam Pemilu 1987 itu, dari 1.530.576 suara pemilih yang sah, Golkar memperoleh 1.343.062(87.75%). OPP lainnya,PDI memperoleh 10,62% dan PPP memperoleh 1,65%. Pembagian kursi di DPRD, Golkar memperoleh 31 kursi, PDI 4 kursi dan PPP 1 kursi.

Setelah kemenangan dalam Pemilu 1987, tugas besar menanti DPD Golkar Tk.I Bali, yakni Musda IV. Musda IV ini dilaksanakan pada tanggal 8 s.d. 10 September 1988, yang selain menetapkan program kerja Golkar Tk.I Bali, juga menetapkan pengurus DPD Golkar Tk.I Bali masa bhakti 1988-1993 dengan susunan yang diketuai oleh I Dewa Gde Oka. Sesuai dengan AD/ART, pengurus ini dilengkapi juga dengan Dewan Pertimbangan Golongan Karya masa bhakti 1988- 1993, yang diketuai oleh Prof. dr. Ida Bagus Oka.

Pada musda-musda berikutnya, terpilih Ketua DPD Golkar Bali berturut-turut  I Ketut Sundria (Masa Bhakti 1993-1998), I Gusti Ngurah Alit Yudha (Masa Bhakti 1998-2004), Cokorde Gede Budi Suryawan (2004-2009), dan I Ketut Sudikerta (Masa Bhakti 2009-2014 dan 2015-2020). (kos)


 AGENDA KEGIATAN
Foto Kegiatan

TWEET TERBARU
FACEBOOK FANS
INSTAGRAM KAMI