• Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Provinsi Bali - Bersahaja, Berintegritas, Berpengalaman, Berkomitmen - Suara Golkar Suara Rakyat
    • Selamat Datang di Website Resmi Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Provinsi Bali - Bersahaja, Berintegritas, Berpengalaman, Berkomitmen - Suara Golkar Suara Rakyat
Baca Sudikerta

Lebih Dekat dengan Ketut Sudikerta (3), Menyentuh Hati Rakyat dengan Kerja Nyata

Oleh : golkarbali | 25 April 2016 | Dibaca : 382 Pengunjung

Dream land demikian nama kondang yang kini disandangkan untuk pantai eksotik di kawasan Pecatu ini bagi sebagian orang memang dianggap sebagai tanah impian. Bagaimana tidak, Pecatu dulu hanya dikenal orang sebagai kawasan yang tandus, kering dan nyaris tak bernilai karena sulitnya air di tanah padas yang gersang.
 
Namun kemudian pasca tersentuh polesan pariwisata, kawasan Pecatu seketika menjelma menjadi kawasan elit dipagari resort super megah dan villa-villa mewah yang sontak menjadikan Pecatu sebagai daerah bernilai ekonomi tinggi. Maka sebutan Dream Land pun pantas disematkan menggambarkan betapa meroketnya nilai tanah di Pecatu lengkap dengan kemegahan area sekitarnya, ini sungguh-sungguh merupakan impian yang terwujud bagi masyarakatnya.
 

Meski diyakini benar banyak masyarakat Pecatu yang terwujud mimpinya, namun tidak demikian halnya bagi I Ketut Sudikerta. Pria asal Pecatu ini mengaku tak sempat bermimpi ataupun menaruh angannya dapat terlepas dari kemelaratan menunggu nasib baik menghampiri desa keringnya di Pecatu

Adapun bila sekarang ia sukses, berhasil dan bahkan dipercaya rakyat Bali duduk sebagai Wakil Gubernur Bali mendampingi Made Mangku Pastika pada pemerintahan perioda 2013-2018, itu semua adalah karena buah kerja keras dari tempaan hidup yang mengajar dan menuntunnya tumbuh dewasa.

Tak ubahnya Gatotkaca dalam kisah Mahabarata yang harus merasakan panasnya kawah Candradimuka di dalam rahim gunung Jamurdipa hingga entas menjadi ksatria pilih tanding, Ketut Sudikerta pun melalui kisah hidupnya nyaris tak berbeda. Ia melakoni perjalanan hidup yang keras di bawah terik yang menyengat di bukit Pecatu di mana ia menghabiskan masa kecilnya, sebagai anak ke empat dari enam bersaudara dalam kehidupan petani miskin yang mengandalkan hidup dari hasil panen padi setahun sekali dan upah kerja ‘I Made Wates’ ayahnya sebagai undagi desa (tukang bangunan tradisional Bali) yang tak menentu.

Di tengah kemiskinan itu, Sudikerta kecil yang baru berumur 7 tahun harus pula menerima kenyataan pahitnya hidup kehilangan kasih sayang  ‘Ni Made Ramped’ ibu kandungnya,  yang meninggal karena kanker.

 

Lengkap sudah, miskin, tanpa penglipur hati belaian ibu, Sudikerta harus segera dewasa dalam usia kanaknya. Ia dipaksa oleh rasa mawas untuk tanggap betapa berat beban sang ayah mecari penghidupan bagi dirinya, kakak dan adik-adiknya.
 
 Dalam usia itulah, sebisa mungkin tangan mungilnya mulai trampil membantu segala pekerjaan di ladang, selain tetap sekolah sembari menenteng setermos es mambo yang ia jajakan di sekolah demi sedikit upah dari hasil es yang laku dijualnya.
 
Sepulang sekolah, Sudikerta harus cekatan memasak untuk makan kedua adiknya dan kemudian bergegas mencari kayu api untuk di jual dan juga air untuk kebutuhan di rumah, sembari menggembala sapi-sapi milik orang lain yang dipercayakan pada keluarganya untuk diberi pakan dengan sistem bagi hasil kemudian (ngadas).
 
Kerja dan kerja keras, setiap hari, “Tak sempat saya bercita-cita atau bermimpi, yang ada hanya bertahan hidup dan berusaha untuk memperoleh hidup yang lebih baik esok hari”. Demikian Sudikerta mengenang betapa miris masa kecilnya di Pecatu yang bahkan karena kekeringan yang sangat, ia hanya bisa mandi sekali dalam seminggu, itupun dikubangan air minum sapi, begitulah alam seolah mempersiapkan sosok ini menjadi sesuatu dikemudian hari hingga sampai sedemikian rupa memahat bentuk jati diri Sudikerta seakan hendak menandaskan dalam-dalam bagaimana rasa pahitnya kemiskinan itu melekat kuat dalam ingatan Sudikerta, yang siapa sangka kini, melampaui sekian puluh tahun kemudian, Sudikerta sungguh-sungguh menjadi tumpuan harapan ribuan jiwa rakyat miskin di Bali.
 
Memang benar, begitu akrabnya Sudikerta dengan kemiskinan, membuatnya tumbuh dewasa dengan perasaan penuh semangat untuk merubah nasib, dalam pikirannya hanya ada satu pintu dan jalan keluar yaitu ‘sekolah.’ Meski melarat, ia berkeras harus tetap terus sekolah.
 
Maka dengan modal ijazah kelulusan SD, Sudikerta beranjak ke Kuta menumpang di rumah kakaknya untuk melanjutkan sekolah di SMP Sunariloka Kuta. Sementara uang sekolah dan keperluan lainnya ia biayai sendiri dari hasil mengacung postcard dan juga kalung dan gelang dari kerang di pantai yang dironcenya sendiri.
 
  
 
Segala ide dan kreatifitas ditumpahkannya demi meraup rupiah yang halal, pokoknya asal ada hasil untuk beli makan dan biaya sekolah Sudikerta sudah puas.  Tidak ada target muluk dalam pikirannya, bahkan ketika ia mulai dapat hasil yang cukup lumayan dari hasil mengacung perhiasan bercorak perak-perak-an, Sudikerta tetap setia pada fokusnya terus bersekolah dengan tekun menabung untuk tujuan melanjutkan sekolah selepas SMP nanti.
 
Selama tiga tahun menumpang  bersama kakak, Sudikerta tidak canggung membantu memasak, mencuci pakaian, piring dan pekerjaan rumahan apa saja, perilakunya yang rajin dan cekatan itulah yang memudahkan jalannya untuk mendapatkan naugan baru di Sanur sebagai parekan di rumah ‘Gus Kiana’ sekaligus tempatnya bekerja menjadi tenaga serabutan sembari ia meneruskan pendidikannya di SMA PGRI IV di kawasam Renon, (kini jalan Drupadi Renon).
 
Pagi ia bekerja, membuka toko, bersih-bersih rumah dan kantor, merangkap sebagai kurir dan segala pekerjaan lainnya, siang harinya ia sekolah sampai sore, kemudian demi mendapat tambahan income untuk biaya hidup dan tabungan sekolah, Sudikerta membunuh gengsi jiwa mudanya dengan menyambi sebagai kernet bemo Denpasar-Sanur.
 
Sedikit demi sedikit hasil yang diperoleh ia tabung di Bank Dagang Bali, rupanya Sudikerta kala itu telah mulai membidik arah menuju perguruan tinggi.
Dan benar saja, setamat SMA, dengan tabungan yang cukup, Sudikerta berhasil memenuhi harapannya ke perguruan tinggi masuk di Universitas Warmadewa, Denpasar, mengambil jurusan Teknik Sipil dengan tujuan menjadi kontraktor seperti para pengusaha yang ia lihat di proyek tempat kakaknya bekerja sebagai mandor di Kuta.
 
Rupanya untuk menjadi arsitek, bukan saja perlu biaya yang besar, tapi juga konsentrasi penuh dan fokus pada tiap mata kuliah yang diajarkan, padahal untuk memenuhi biaya kuliah yang terbilang lumayan, Sudikerta harus bekerja dengan sungguh pula dan mengoptimalkan waktu merangkap kerja di sana-sini untuk menambah rupiah masuk ke dalam sakunya.
 
Untuk biaya kuliah itulah, dengan berbekal ijazah tamatan SMA ditambah kebisaan berbahasa Inggris ala dagang acung yang digelutinya semasa SMP dulu, Sudikerta diterima bergabung sebagai karyawan serabutan di Udaya Tour, sambil sesekali menjadi guide (pramu wisata) free lance, menggaet tamu-tamu di depan hotel Bali Beach Sanur yang lalu diajaknya berwisata dengan bemo carteran.
 
“Cas-cis-cus”, bahasa Inggris Sudikerta mulai lancar, banyak tamu puas dan senang akan layanan Sudikerta muda yang terlihat energik dan ramah. Karena itulah makin hari, makin padat saja jadwal kerja Sudikerta sebagai guide freelance, ini berarti makin banyak juga menyita porsi waktu jam kuliahnya. Bahkan karena kesibukannya itu, beberapa kali eksistensi gambar yang diajukan ke dosen selalu dinilai gagal dengan banyak kekurangan di sana sini yang memancing kekesalan Sudikerta hingga merobek gambar di hadapan dosennya.
 
Semenjak peristiwa itu, agar konflik dan permasalahan kuliah tidak makin meluas dan semuanya dapat berjalan dengan baik, akhirnya  Sudikerta pun membulatkan tekad beralih  jurusan ke Sastra Inggris, sesuai bidang di sektor kepariwisataan yang ia geluti, kendati sesungguhnya ia telah menempuh selama dua tahun lamanya sebagai mahasiswa jurusan tekhnik Sipil.
 
Setelah di sastra Inggris, perkuliahan berjalan lancar tak mengganggu jadwal kerjanya, bahkan kali ini, Sudikerta masih punya cukup waktu untuk aktif di resimen mahasiswa di mana ia kemudian bertemu  Ida Ayu Sri Sumiatini, atau akrab dipanggilnya ‘Dayu’  mahasiswi  fakultas Hukum yang tak diduga karena pertemanan yang akrab menjadikan keduanya saling jatuh cinta.
 
Di lain sisi, di luar jam kuliah dan kisah cintanya, kegiatan profesi Ketut Sudikerta sebagai tour guide rupanya telah membuka rangkaian persahabatan Sudikerta dengan beberapa tamu mancanegara. Networking yang luas itu memberi peluang Sudikerta untuk berangkat bekerja ke Jepang di tahun 1991 sesaat setelah ia merampungkan sekripsinya di tahap akhir perkuliahan.
 
Tiga tahun lamanya Sudikerta di Jepang, hingga sampai pada tahun 1993, setelah dirasa memiliki cukup uang untuk modal, Sudikerta pun memutuskan pulang ke Bali dan langsung menyegerakan merampungkan kuliahnya yang sempat tertunda sampai wisuda sarjana, dan dilanjutkan pada agenda penting lainnya yaitu menyunting Ida Ayu Sri Sumiatini kekasihnya yang lama ia tinggal merantau ke negeri Sakura.
 

  

 

Di akhir tahun 1993 itulah, Sudikerta yang mulai menampakkan arah kemapanan dan dirasa sudah siap memikul tanggung jawab untuk membina keluarga, kemudian memberanikan diri meminang Dayu kekasihnya, kendati sepenuhnya ia sadar bahwa secara kultur budaya Bali ia akan terkendala pada perbedaan kasta.
 
Namun ternyata pinangannya tak menemui hambatan berarti, kedua orang tua Dayu ternyata lebih melihat sisi kesungguhan Sudikerta. Dan karenanya tak lama kemudian, Sudikerta berhasil memboyong Dayu sebagai istri dalam ikatan perkawinan pada tahun 1993.
 
Sebagai kepala rumah tangga dengan tanggung jawab membahagiakan istri yang dicintainya, Sudikerta mulai dengan serius merintis cikal bakal usaha.
Langkah awal memulai karir usaha ia lakukan dengan membuka usaha dagang nasi ‘be guling’ (babi guling) di Sanur yang setelah dijalani ternyata tak banyak memberi keuntungan hingga kemudian beralih ke usaha ekspor gentong-gentong Lombok dengan market pasar kala itu ke Australia yang juga tak berbuah sukses, dan terpaksa ditutupnya untuk berubah haluan ke usaha di bidang ekspedisi, packing dan shipping yang usaha inipun juga tak berjalan mulus.
 
Coba dan gagal tak membuat Sudikerta patah arang, ia terus bersemangat mencoba peluang dan peruntungan lain, yang kali ini dipapakinya di sektor property. Sebagian dari dananya memang sempat ia investasikan dengan membeli beberapa bidang lahan yang kemudian mulai dicoba dijual. Kali ini usahanya sukses, hasil penjualan tanah memberi keuntungan berlipat-lipat ganda, terus dan terus berputar dari tanah yang satu ke tanah yang lain dan terus diinvestasikan membeli tanah baru di daerah lain, demikian usaha property itu digeluti Sudikerta yang sontak melambungkannya sebagai milyuner muda di Bali.
 
Sukses dalam bisnis property, Sudikerta tancap gas mengembangkan sektor usaha  keberbagai arah, salah satunya menerjuni bisnis akomodasi dengan giat mendirikan hotel-hotel yang dimulai sejak tahun 1999 dan terus berkembang hingga saat ini.
 
Keberhasilannya ini diikuti kesuksesan kakak dan adik-adiknya, keluarga besarnya terbilang cukup sejahtera menggeluti bidang yang sama. Sementara itu perjalanan hidup Sudikerta ternyata tak menuntunnya terhenti happy ending hanya sebagai konglomerat sukses saja, namun ada sesuatu yang lebih besar maknanya dari itu semua. Dan ini bermula ketika ia diajak ‘Komang Budiarta’ sahabatnya terjun sebagai pengurus PASI Bali dan juga dalam kepengurusan di KOSGORO Bali, sebuah Koperasi yang mengusung semangat kegotong royongan di bawah naungan  partai Golongan Karya.
 
Di bawah beringin rindang ini, Sudikerta secara kebetulan diposisikan sebagai bendahara DPD Golkar Badung yang lama kelamaan mendaulatnya menjadi ketua DPD Golkar Badung dan terus melaju sebagai Ketua DPD Golkar Bali, yang semua berjalan begitu saja tanpa rencana dan cita-cita.
 
 Karir politiknya dengan gemilang melesat cepat menuntunnya melenggang sebagai anggota DPRD Bali.
 
Tak lama kemudian di tahun 2005 tepatnya 6 bulan setelah duduk sebagai anggota Dewan, melalui proses mekanisme pemilu langsung, Sudikerta berhasil duduk terpilih sebagai wakil Bupati Badung mendampingi Anak Agung Gede Agung.
 
Di sinilah sebagai petinggi di Kabupaten Badung, Ketut Sudikerta diuji kesetiannya pada perjuangan pengentasan kemiskinan.
 
Sebagai pemimpin yang lahir dari rahim kemiskinan tentu Sudikerta paham betul cara dan jalan keluar menghadapi kemiskinan. Kali ini tugasnya lebih berat, karena ada sekian ratus ribu jiwa di Badung yang menanti kebijakan dan uluran tangan pemimpinnya menarik mereka dari kubang kemiskinan, dan Sudikerta memahami itu semua.
 
Ia sadar bahwa perjalan hidupnya harus dibesarkan di atas padas tandus di Pecatu yang merupakan daerah miskin dan tersulit di Kabupaten Badung yang kini nyatanya mampu menjelma menjadi kawasan premium, adalah cerminan dalam satu rangkain pelajaran untuk posisinya sebagai pemimpin di Badung. Di mana ia ditugaskan Sang Hyang Wenang dalam posisinya kini untuk menyejahterakan daerah tertinggal lainnya di Badung, menghidupkan potensi daerah tertinggal hingga mampu bermetamormosa seperti halnya Dream Land di bumi Pecatu.
 
 
Berkaca dari sanalah, I Ketut Sudikerta tak meluangkan waktu selain fokus pada pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Sektor pertanian, pariwisata dan pengembangan infrastruktur di seluruh pelosok Kabupaten Badung mulai disasarnya. Indeks menurunnya angka kemiskinan menjadi barometer keberhasilannya.
 
Hingga karena itulah, untuk kedua kalinya, Drs. I Ketut Sudikerta dipercaya rakyat Badung kembali melanjutkan kepemimpinannya dalam periode ke dua pemerintahan Badung.
 
Namun belum lagi usai masa bakhtinya sebagai wakil bupati Badung, I Ketut Sudikerta digandeng untuk mendampingi Made Mangku Pastika terjun dalam pertarungan politik di bursa pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali.
 
Kendati berhadapan dengan kekuatan penuh partai terbesar di Bali, namun rakyat terlanjur melihat sosok Sudikerta sebagai pemimpin luar biasa. Figurnya selalu dikaitkan pada keberhasilan pembangunan di Badung. Tersentuhnya rakyat miskin Badung dengan berbagai program yang langsung pada akar permasalahannya menjadi tolok ukur rakyat bahwa I Ketut Sudikerta, memang ‘bukan pemimpin biasa’.
 
Dan benar saja, melalui hasil keputusan KPU Bali yang mengukuhkan kemenangan tipis pasangan Pasti-Kerta diperkuat dengan ketetapan Mahkamah Konstitusi yang menyerukan hal senada menjadikan Ketut Sudikerta menempati posisinya kini sebagai Wakil Gubernur Bali, memimpin Bali sampai pemilu berikutnya di tahun 2018. (www.mostinspiring.co.id)
 


Oleh : golkarbali | 25 April 2016 | Dibaca : 382 Pengunjung


Sudikerta Lainnya :

Lihat Arsip Sudikerta Lainnya :

 



 AGENDA KEGIATAN
Foto Kegiatan

TWEET TERBARU
FACEBOOK FANS
INSTAGRAM KAMI