• Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Provinsi Bali - Bersahaja, Berintegritas, Berpengalaman, Berkomitmen - Suara Golkar Suara Rakyat
    • Selamat Datang di Website Resmi Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Provinsi Bali - Bersahaja, Berintegritas, Berpengalaman, Berkomitmen - Suara Golkar Suara Rakyat
Baca Sudikerta

Lebih Dekat dengan Ketut Sudikerta (2), Sosok Wakil Gubernur yang Terbiasa Bekerja Keras

Oleh : golkarbali | 25 April 2016 | Dibaca : 338 Pengunjung

Sebelumnya tak pernah terpikir dalam benak I Ketut Sudikerta untuk terjun ke dunia politik dan akhirnya menjabat sebagai wakil gubernur Bali. Apalagi, latar belakang keluarga dan orangtuanya hanya seorang petani dan dari kalangan biasa. Apa yang didapatnya saat ini merupakan anugerah dari Tuhan dan hasil pantang menyerah dalam melakoni hidup.
 
“Kalau saya jadi wakil gubernur kan atas amanat masyarakat dan tidak pernah bercita-cita seperti ini. Semuanya alami saja seperti air mengalir. Yang saya cita-citakan hanya bagaimana bisa hidup dan makan layak. Saya termotivasi dan pantang mundur untuk maju dengan berbagai terpaan dalam hidup. Rintangan demi rintangan bisa saya atasi,” ujar Sudikerta di Pecatu, Bali, beberapa waktu lalu.
 
Semenjak kecil, pria kelahiran Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali, 29 Agustus 1967 ini sudah terbiasa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tahun 1973, ibunya meninggal dunia. Pada 1980, setelah tamat SD, ia pindah ke Kuta dan bekerja serabutan sambil bersekolah.
 
Ia tidak malu bekerja sebagai pedagang asongan dan mencuci celana teman-temannya untuk mendapatkan uang. Baginya yang penting tetap hidup dengan cara yang halal. Pada waktu senggang, ia memilih ke pantai untuk melihat keindahannya dan bule-bule yang sedang berjemur.
 
Setamat SMP tahun 1983, Sudikerta memilih untuk pindah lagi ke Sanur dan menjadi pembantu di rumah seorang pria bernama Ida bagus Setiana. Selain itu, ia kembali bekerja serabutan pada malam hari dengan menjadi kernet bemo jurusan Kreneng – Sanur.
 
“Selama empat tahun, saya seperti itu dan tidak pernah surut dan tetap bersemangat dalam hidup,” ujar ayah dua anak ini.
 
Ketika lulus SMA, ia sempat menjadi guide tamu asing di pantai agar bisa mengumpulkan duit guna membiayai kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kembali, saat menjelang wisuda, ia tidak punya uang. Sudikerta pun nekat jadi TKI di Jepang selama dua tahun.
 
Tuhan memang adil. Kenekatannya itu diganjar dengan penghasilan yang cukup untuk membiayai wisudanya. Selain itu, ada uang sisa yang digunakannya untuk berwirausaha. Tetapi yang namanya hidup memang tidak selamanya mudah. Usahanya pun tidak mulus pada awalnya.
 
Sudikerta pernah berbisnis ekspor gerabah Lombok ke Australia, usaha nasi kebuli, travel, hingga salon kecantikan, yang semuanya berujung pada kebangkrutan. Beruntung, waktu itu, ia masih sempat membeli tanah sedikit demi sedikit sembari bewirausaha.
 
 
Akhirnya, Sudikerta membeli tanah 1.000 hektare di Papua. Di sana, ia membangun perusahaan untuk mengurus pertambangan batu bara. Dari hasil usaha pertambangannya itu, ia pun merambah ke bisnis properti sejak tahun 2000. Dengan keuletannya dan pantang menyerah, Sudikerta kini telah mempunyai beberapa hotel . antara lain di Nusa Dua dan Depansar.
 
“Saya tidak pernah memilih pekerjaan, tidak pernah menyerah, dan terus berusaha. Saya ini banyak mengalami keberuntungan. Hasil jerih payah yang saya dapat tidak semuanya saya habiskan begitu saja, saya kembalikan ke masyarakat. Kalau dihitung-hitung, sudah 10 juta orang yang saya sumbang dana untuk ngaben. Sekali lagi, kerjakan apa yang bisa dikerjakan dan jangan lupa bersedekah,” ujarnya, memberikan tips sukses bisnisnya.
 
Sementara itu, menurut dia, menjabat sebagai orang kedua yang paling berpengaruh di Bali merupakan kesempatan untuk berderma kepada masyarakat, termasuk memajukan pertanian Pulau Dewata. “Orangtua saya seorang petani, jadi pertanian itu asal-usul saya. Petani harus bisa meningkatkan taraf hidupnya,” ucap suami dari Ida Ayu Ketut Sri Sumiatini ini.
 
Sudikerta mengatakan, untuk bisa meningkatkan taraf hidup petani tentu membutuhkan perhatian dari pemerintah. baik pusat maupun daerah. Pembenahan perlu dilakukan pada infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi dan jalan-jalan setapak. Petani juga perlu diberikan bibit unggul, seperti bibit jeruk, kelapa, cengkih, dan buah-buahan lain.
 
Yang ketiga, lanjutnya, bagaimana memerhatikan kualitas sumber daya para petani. Misalnya, para petani diberikan pelatihan melalui penyuluhan-penyuluhan. Lalu, petani diberi wawasan soal daerah-daerah yang memiliki kemajuan di sektor pertanian, sehingga bertambah wawasannya.
 
“Keempat, kita mesti mendorong dan mendukung penguatan permodalan petani. Dengan permodalan, petani diharapkan bisa lebih bersemangat dan giat bekerja. Itu kira-kira,” ucapnya.
 
 
 
Sudikerta mengaku, Pemerintah Provinsi Bali sedang mengupayakan pencetakan kawasan-kawasan pertanian baru di daerah yang sudah mengalami kegundulan. Kawasan tersebut di bagian utara, antara lain Bedugul, Petang, dan Buleleng bagian selatan.
 
Anak-anak muda pun diharapkan mau berperan di sektor pertanian, selain pariwisata. Sekolah-sekolah pertanian didirikan di beberapa wilayah, seperti SMK Bali Madara di Buleleng. “Itu juga sebagai upaya mengatasi urbanisasi dari desa ke kota. Selain itu, enggak semua fokus ke pariwisata,” ujar Sudikerta. (as/investordaily/http://www.ayopreneur.com)
 


Oleh : golkarbali | 25 April 2016 | Dibaca : 338 Pengunjung


Sudikerta Lainnya :

Lihat Arsip Sudikerta Lainnya :

 



 AGENDA KEGIATAN
Foto Kegiatan

TWEET TERBARU
FACEBOOK FANS
INSTAGRAM KAMI